Assalamu'alaikum. Selamat Datang di blog saya yang berjudul Peace, Love and Believe ini. Semoga kita bisa berbagi tentang apa saja.

Kamis, 01 Mei 2008

Tak ada kesimpulan pada pidato presiden…???

Rabu kemarin (tgl 30 April 2008), sempat nonton pidato Presiden SBY di TV. Pidato yang merupakan rekaman tersebut ditujukan untuk seluruh Rakyat Indonesia. Sayang pada pidato tersebut, Presiden SBY tidak memutuskan sesuatu tentang kenaikan harga BBM yang akhir-akhir ini tengah beredar rumor bahwa harga BBM subsidi akan melonjak ke angka Rp. 6000 / liter. Sekedar info, harga BBM industri beberapa bulan terakhir mengalami kenaikan sebanyak 2 kali dalam sebulan. Dan saat ini harga BBM solar untuk industri adalah Rp. 9.906 / liter.


Dalam pidato tersebut, Presiden SBY hanya menjelaskan bahwa kini dunia sedang mengalami dua krisis, yaitu krisis energi dan krisis pangan. "Sebagian pakar ekonomi meramalkan akan terjadi resesi ekonomi atau perlambatan ekonomi dunia yang diawali dengan perlambatan ekonomi di Amerika Serikat. Sekarang kita mulai merasakan dampaknya. Harga pangan sejak beberapa bulan yang lalu terjadi kenaikan. Sejak itu pemerintah telah melakukan berbagai upaya dengan kebijakan stabilisasi harga dengan tujuan agar harga tidak terus naik," Demikian sedikit petikan dari pidato Presiden.


Berhubungan dengan BBM, presiden hanya menginstruksikan kepada seluruh Instansi, baik pemerintah maupun swasta, untuk melakukan penghematan pemakaian listrik dan kendaraan pribadi maupun dinas. Beliau tidak menyinggung soal kenaikan harga BBM yang sekarang sedang marak diberitakan.


Apakah artinya bahwa presiden “takut” kepada rakyat untuk mengungkapkan bahwa harga BBM dalam waktu dekat akan naik? Karena menurut beberapa pengamat ekonomi, untuk menjamin kesinambungan perekonomian nasional, mau tidak mau pemerintah harus mengurangi subsidi BBM. Walaupun tidak dipungkiri bahwa keputusan ini sungguh tidak populis di masyarakat. Bahwa keputusan ini hanya akan menurunkan pamor Presiden SBY dan mempengaruhi keputusan rakyat pada pemilu 2009 mendatang.


Menurut saya pribadi, jika tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, maka pemerintah harus merogoh dana APBN dalam-dalam hanya untuk subsidi BBM. Dan sudah barang tentu, subsidi untuk yang lain seperti Pendidikan dan kesehatan akan dikurangi untuk menutupi devisit APBN. Dan yang menikmati subsidi tersebut kebanyakan dari kalangan menengah ke atas.Tetapi saya juga tidak begitu saja setuju jika harga BBM harus dinaikkan. Kenapa? Karena jika harga BBM naik, sudah dapat dipastikan seluruh aspek kehidupan masyarakat akan ikut naik. Hal ini akan berdampak pada peningkatan jumlah kemiskinan. “Bagai buah simalakama”, mungkin pepatah ini yang sedang dialami oleh pemerintah kita.


Oleh karena itu, kita sebagai rakyat hanya bisa berdoa agar apapun keputusan pemerintah, tidak ada rakyat yang merasa dirugikan. Kalau pun harus ada yang dirugikan, kita berharap agar kestabilan ekonomi Negara kita tetap terjamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar